a

Thursday, March 21, 2013

Berbagi Kekayaan


Kalau Anda sudah berada dalam keadaan cukup kaya, atau malah sangat kaya, apa yang akan Anda lakukan dengan kekayaan Anda? Menggunakannya sesuka hati, memenuhi semua keinginan? Sepenuhnya terserah Anda. Namun, jangan lupa, kekayaan yang tidak dikelola, sama artinya dengan menuju kembali kepada kemiskinan. Apalagi jika kekayaan Anda tidak berupa aset yang produktif, maka hanya menunggu waktu saja untuk kemudian kekayaan Anda menghilang seperti disapu angin. Akan tetapi, jika kekayaan Anda berisi aset produktif dan terus menghasilkan, sehingga kekayaan Anda juga terus bertumbuh, maka Anda layak untuk menikmati kekayaan Anda hingga pada tahap memberi manfaat kepada orang lain, yakni berbagi kekayaan, tanpa harus kehilangan kekayaan.

Berbagi kekayaan, bagi sebagian orang mungkin aneh. Namun hal ini biasa dilakukan oleh berbagai kalangan, bukan saja sebagai pengajaran agama, tetapi juga sebagai wujud kepedulian sosial. Dan bahkan, lebih jauh lagi, berbagi kekayaan adalah tahapan tertinggi pencapaian kekayaan seseorang di mana yang menjadi tujuan keuangannya adalah bagaimana agar kekayaan yang dimiliki bisa memberikan manfaat bagi orang banyak. Jadi, bukan sekadar aktualisasi diri, melainkan berbagi manfaat.

Apalagi, di masyarakat toh ada anggapan, bahwa memberi jauh lebih mulia ketimbang menerima. Dan sejatinya, setiap orang jika memang mampu, mestinya mau memberi. Mau berbagi. Namun demikian, memberi dan berbagi belum tentu menghasilkan dampak positif jika caranya kurang benar. Lantas bagaimana berbagi kekayaan yang memenuhi kaidah keuangan sehingga si penerima akan mendapatkan manfaat?
Berbagi, sejatinya bukanlah sekadar memberikan uang, katakanlah kepada orang yang tidak mampu, kepada panti asuhan, atau kepada orang-orang yang meminta sumbangan kepada Anda. Berbagi dalam konteks seperti itu adalah hibah yang meskipun positif, namun belum tentu memberikan multiplier efek manfaat kepada penerimanya.

Berbagi kekayaan, sesungguhnya adalah bagaimana sebagian kekayaan yang Anda miliki bisa memberikan faedah ekonomi secara luas. Dan itu tidak selalu dalam bentuk hibah atau sumbangan. Ada beberapa pola yang bisa dilakukan dan telah banyak dijalankan, utamanya bagi orang-orang kaya di luar negeri.

Pertama, menyisihkan sebagian penghasilan Anda secara rutin, melalui sebuah lembaga pengelola Jana sumbangan. Di mana sumbangan Anda itu akan dikumpulkan bersama sumbangan-sumbangan dari orang lain dan kemudian oleh si pengelola akan dialokasikan kepada pihak-pihak yang layak mendapat bantuan. Pola ini biasanya dilakukan oleh kalangan yang tidak mau pusing dan atau tidak mau berhubungan langsung dengan pihak yang akan menerima sumbangan. Cara seperti ini bisa baik, jika si pengelola dana sumbangan cukup profesional, di mana dana sumbangan tersebut terlebih dahulu dikelola, termasuk diinvestasikan pada sektor-sektor yang memberi dampak luas terhadap masyarakat. Keuntungan dari investasi itulah yang dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan.

Kedua, ikut serta dalam program bantuan sosial. Ini mirip dengan program corporate social responsibility bagi banyak perusahaan. Cara ini juga positif, namun memiliki banyak kelemahan, di mana sumbangan dana Anda hanya bersifat momentum dan sesaat. Misalnya ada korban banjir, korban bencana alam, dan lain sebagainya, dibantu dengan dana yang dikumpulkan, termasuk dana Anda. Setelah itu, selesai. Jadi tidak bersifat berkelanjutan.

Ketiga, bersama rekan-rekan yang memiliki kemampuan berbagi, mendirikan yayasan khusus, yang nantinya akan bergerak di berbagai bidang sosial, apakah itu mendirikan panti asuhan, panti jompo, dan lain sebagainya. Cara ini, akan lebih fokus, namun tetap saja, kekayaan yang dibagi akan dialokasikan sebagai ekspansi atau biaya untuk operasional yayasan dimaksud. terus, apakah ada cara berbagi kekayaan yang lebih baik dari ketiga hal tersebut? Ada. Seperti begini.

Sebagaimana lazimnya investasi, kuncinya adalah bagaimana membuat dana yang dimiliki bisa beranak pinak dan terus bertumbuh. Berbagi kekayaan juga demikian.  Bukan cuma menjadi sumbangan atau "sedekah" atau "expansi" yang tidak memiliki dampak peningkatan nilai ekonomis. Berbagi semestinya adalah ketika dana yang dibagi bisa "diputar" sedemikian rupa, sehingga menjadi produktif. Irnbal hasil dana yang "diputar" itulah yang kemudian dialokasikan sebagai "sumbangan" atau apa pun yang manfaatnya diterima masyarakat yang membutuhkan.

Dengan filosofi seperti itu, maka keinginan untuk berbagi bisa dilakukan dengan cara membeli produk-produk investasi yang peruntukan dananya sebagian berdampak sosial. Dan saat ini cukup banyak produk investasi semacam itu, termasuk dalam bentuk reksadana.

Selain itu, berbagi kekayaan juga bisa dilakukan dengan cara berinvestasi pada bidang-bidang yang tidak semata-mata padat modal, tetapi juga padat karya, sehingga memberikan dampak kepada perluasan lapangan kerja. Lebih jauh lagi, berbagi kekayaan dapat pula dilakukan dengan mengalokasikan dana secara bertahap pada sebuah "polling fund', di mana dana tersebut kemudian dijadikan sebagai sumber pemberian kredit berbunga murah kepada pengusaha lemah. Dana yang menjadi kredit akan dikembalikan dan bergulir, dalam anti dapat diberikan kepada kalangan lain, dengan modus yang sama. Cara semacam ini, bukan saja akan mengurangi pengangguran, tetapi juga akan menumbuhkan wirausaha baru yang diberi pinjaman modal berbunga lunak, sehingga mereka bisa berkembang. Pendeknya, berbagi kekayaan, tidak selalu mesti dengan memberi sumbangan semata-mata, tetapi bisa melalui cara-cara yang lebih bersifat investasi, sehingga pada gilirannya, manfaat yang diperoleh juga akan lebih besar. Selamat mencoba.

 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...