Thursday, March 21, 2013

Taktik Alokasi Aset



Anda tentu masih ingat istilah strategi alokasi aset (SAA). Ya, SAA merupakan perencanaan investasi dengan mengalokasikan dana ke berbagai instrumen investasi yang disesuaikan dengan tujuan dan time horizon investasi itu sendiri. Biasanya, strategi alokasi aset tersebut dibuat untuk kurun waktu 5 tahun. 

Pertanyaannya, bagaimana jika ada perubahan dalam tujuan investasi dan juga berbagai faktor yang memengaruhinya? Apakah alokasi aset investasi tetap seperti semula? Konsisten seperti itu selama 5 tahun? jelas tidak. Alokasi aset mesti mengalami penyesuaian agar hasilnya bisa efektif. Nah penyesuaian setiap tahunnya diistilahkan dengan taktik alokasi aset. Bagaimana konkretnya? Begini...

Misalkan dana yang dimiliki untuk berinvestasi sebesar Rp l miliar. Tujuan investasi adalah agar 5 tahun mendatang dimiliki dana yang cukup untuk membiayai hari tua. Dana Rp l miliar tersebut dialokasikan dalam bentuk deposito berjangka sebesar 20 persen, obligasi ritel 40 persen, saham 20 persen, dan yang 20 persen lagi mungkin ditempatkan dalam sektor apakah itu membuka restoran atau berkebun bunga. Untuk setiap jenis investasi tersebut, tentunya Anda memilih ekspektasi imbal hasil. Deposito berjangka umpamanya, diharapkan bisa memberikan tingkat bunga 7-8 persen. Lalu, obligasi ritel sekitar 9-10 persen. Saham sebesar 15-20 persen per tahun dan berkebun bunga bisa di atas 20 persen. Jika dirata-ratakan, dari seluruh investasi Anda, diharapkan setahunnya bisa memberikan imbal hasil sekitar 12-13 persen. Jadi, kalau tahun ini, dana yang diinvestasikan adalah sebesar  Rp 1 miliar, maka tahun depan, dana tersebut diharapkan sudah menjadi Rp1,13 miliar. Jika hal yang sama berlangsung terus selama 5 tahun, maka dana Anda 5 tahun mendatang diharapkan bisa mencapai di atas Rp1,6 miliar. Atau bertambah 60 persen dalam 5 tahun.
Masalahnya, apakah ekspektasi tersebut pasti akan sesuai dengan realitas? Belum tentu. Ekspektasi imbal basil dan alokasi aset investasi sebagaimana telah diuraikan, pada dasarnya mengacu pada asumsi perkembangan ekonomi makro dan tujuan investasi itu sendiri. Dalam realitasnya, makro ekonomi bisa berubah. Dampaknya tingkat imbal basil yang diberikan oleh berbagai instrumen investasi juga bisa berbeda dengan yang diharapkan. Dus, dengan kondisi seperti itu, jika Anda menginginkan dana investasi Anda tetap mencapai sekitar Rp1,6 miliar, maka harus dilakukan penyesuaian dalam aset investasi. Beberapa cara yang bisa dilakukan kira-kira seperti ini.

Membuat alokasi aset investasi dalam bentuk range atau kisaran. Seperti contoh di atas, penempatan dana deposito berjangka, jangan langsung dipatok 20 persen, melainkan dalam bentuk range, misalnya antara 15-20 persen. Lalu, obligasi ritel 30-40 persen. Saham 20-30 persen, dan investasi di sektor ril sebesar 20-25 persen. Dengan konsep seperti ini, maka tanpa perlu menafikan kedisiplinan dalam berinvestasi, Anda tetap bisa menggeser-geser alokasi dana untuk mencapai basil investasi sesuai harapan. Katakanlah jika suku bunga deposito turun menjadi 6 persen, berarti Anda kehilangan opportunity income sebesar 1 persen dari deposito. Nah untuk menghindari hal tersebut, maka jumlah deposito berjangka diturunkan dan dialihkan ke saham atau obligasi. Ini jika perubahan dilakukan secara "reaktif" atau parsial terhadap portofolio investasi yang benar. Padahal, penyesuaian investasi juga mesti dilakukan secara terkelola dengan perencanaan yang jelas. Maksudnya apa? Maksudnya adalah penyesuaian alokasi aset investasi akan terjadi secara otomatis, jika terjadi perubahan indikator makro ekonomi. Seperti apa? Begini...

Berdasarkan range alokasi aset sebagaimana dipaparkan, maka portofolio investasi akan berubah setiap kali ada perubahan indikator makro ekonomi dibandingkan asumsi. Suku bunga deposito misalnya. Jika mengalami penurunan 1 persen, akan mendorong penurunan alokasi dana ke deposito berjangka menjadi 15 persen dari rencana sebelumnya antara 15-20 persen. Demikian juga dengan alokasi aset lainnya. Alokasi ke saham bisa dinaikkan menjadi 25 persen, di mana tambahan dana baru diambil dari pencairan deposito berjangka. Konkretnya, portofolio investasi di-review secara periodik, apakah per semester atau per tahun, untuk kemudian dilakukan penyesuaian, dalam rangka respons terhadap perubahan makro ekonomi. Inilah inti dari taktik alokasi aset. nah, apakah persoalan selesai? Jelas belum. Masih ada langkah-langkah lain yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, penyesuaian alokasi aset investasi dalam rangka respons terhadap perubahan makro ekonomi hanya akan dilakukan, sepanjang berdampak pada perkiraan imbal hasil. Konkretnya, perubahan makro ekonomi telah menglibatkan target imbal hasil Anda berkemungkinan tidak tercapai. Tetapi, jika perubahan malah berdampak positif terhadap portofolio investasi Anda, penyesuaian tidak perlu dilakukan.

Kedua, penyesuaian alokasi aset, hanya dilakukan berdasarkan perubahan ekonomi makro, bukan berdasarkan rumor atau isu belaka. Ini penting, mengingat, banyak kalangan terkadang terlalu reaktif terhadap suatu isu dan kemudian mengantisipasinya dengan melakukan tindakan-tindakan yang malah merugikan. Demikian juga dalam menyusun aset investasi, mengingat tujuannya adalah untuk jangka waktu 5 tahun dan juga tahunan, maka jangan bersikap reaktif terhadap perubahan yang sifatnya sementara.
Ketiga, penyesuaian alokasi aset juga mengubah risiko investasi Anda. Berharap return atau imbal basil lebih tinggi sama artinya dengan mengambil risiko yang lebih tinggi. Ini mesti dipahami sebab, tidak ada imbal basil tanpa risiko. Oleh karena ita, dalam portofolio investasi Anda mesti dipahami, instrumen mana yang sebaiknya digeser tanpa mengubah tingkat risiko terlalu besar. Misalnya, pilihan antara meningkatkan alokasi dana ke saham atau obligasi ritel, tentu memberikan konsekuensi risiko yang berbeda.

Keempat, berikan waktu yang cukup untuk merespons perubahan ekonomi makro. Jika Anda menyusun taktik alokasi aset yang bersifat tahunan, maka perubahan yang mesti dicermati adalah yang bersifat permanen. Misalnya, target inflasi yang semula hanya 4 persen, ternyata kemudian menjadi 7 persen, jelas memberikan dampak signifikan. Tetapi, kalau pergerakan harga saham yang tercermin melalui indeks belum tentu bersifat permanen. Sebab, naik turunnya harga saham tidak selalu disebabkan oleh faktor fundamental, namun bisa karena sentimen sesaat. Oleh karena itu, mencermati indikator-indikator makro ekonomi mesti dilakukan secara sangat hati-hati.


 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...