Friday, February 8, 2013

Hati-Hati Dengan Kartu Kredit


Menyesuaikan pengeluaran dengan budget yang dimiliki merupakan hal yang tidak kalah penting. Rasanya tidak mungkin apabila pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Namun sayangnya, fenomena yang terjadi sekarang ini berkata lain.

Sejak beberapa dekade terakhir, ketergantungan masyarakat akan kartu kredit (credit card) sudah begitu tinggi. Konsumen yang berbelanja menggunakan kartu kredit banyak dijumpai di pusat-pusat perbelanjaan. Untuk efek baiknya, kartu kredit mempunyai nilai plus, yakni ringkas ketika dibawa. Masyarakat tidak perlu repot membawa berlembar-lembar uang tunai maupun berkoin-koin uang receh. Dengan kelebihan tersebut, hal itu tak ayal mampu meminimalisir kecemasan masyarakat akan bahaya pencopetan uang tunai.

Selain mempunyai kelebihan, penggunaan kartu kredit ternyata mempunyai kelemahan. Efek buruk dalam penggunaan kartu kredit terbilang relatif signifikan. Efek buruk yang pertama adalah tagihan. Jangan malu mengakui bahwa menggunakan kartu kredit adalah sama dengan berutang. Berbeda dengan kartu debit (debet card) yang tidak harus membayar tagihan setelah berbelanja, penggunaan kartu kredit justru mengharuskan kita membayar tagihan. Sangat tidak efektif bagi orang yang berpedoman bahwa pengeluaran itu tidak boleh lebih besar dari pendapatan. Jadi, bayangkan ketika Anda harus menanggung utang di samping harus menanggung kebutuhan lain. Jadi, cukup logis apabila orang-orang yang berpedoman pengeluaran tidak boleh lebih besar daripada pendapatan, menghindari kartu kredit sebagai sarana berbelanja.

Efek buruk yang kedua pada penggunaan kartu kredit adalah membentuk pola belanja konsumtif. Ketika orang-orang menggunakan kartu kredit, mereka merasa bak raja yang bisa membeli barang apa pun. Yang ada dalam benak mereka hanya berbelanja dan berbelanja. Mereka baru akan berhenti ketika kartu kredit sudah mencapai batas maksimal pemakaian (over limit). Namun, pola belanja yang dimikian konsumtif tidak akan berhenti hanya karena itu. Ketika kartu kredit sudah bersaldo normal atau sudah terisi lagi, maka dengan mudahnya mereka akan mengulangi kebiasaan berbelanja.

Sangat disayangkan karena masih banyak masyarakat yang memiliki pola belanja konsumtif semacam itu. Selain dikatakan pemborosan, pola belanja konsumtif tak ayal menjadi salah satu penyebab pada kasus gagalnya seseorang dalam memenuhi kebutuhannya.

Jadi, hati-hati dengan kartu kredit yang Anda miliki.
by Anggoro Prasetyo
 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...